KERJASAMA USAHA ULAT JERMAN
USAHA ULAT JERMAN
KESEMPATAN PELUANG MARKET EKSPOR YANG MASIH TERSEDIA 90% ARTINYA, SAAT INI INDONESIA HANYA BARU MAMPU MEMENUHI EKSPOR 10% DAN MARKET LOKAL PUN MASIH TERBUKA LUAS. PASS BREEDING MEMBUAT TEROBOSAN DENGAN MELAKUKAN KONTRAK KERJASAMA DENGAN EKSPORTIR ULAT JERMAN TERBESAR DI INDONESIA UNTUK PASAR EKSPOR KE AMERIKA, AUSTRALIA,CHINA,TAIWAN,SINGAPORE, MALAYSIA DAN THAILAND. PASS BREEDING DITUNJUK LANGSUNG SEBAGAI SATUAN KHUSUS ( SATSUS ) GUNA MELANJUTKAN KERJASAMA DENGAN BEBERAPA LEMBAGA TINGGI NEGARA, TNI – POLRI, SWASTA NASIONAL, ORGANISASI DAN KOMUNITAS UNTUK BERSAMA – SAMA MENGEMBANG BIAKAN BUDIDAYA ULAT JERMAN YANG MUDAH, PRAKTIS, EFISIEN, TANPA RESIKO KERUGIAN DAN DENGAN HASIL KEUNTUNGAN BERLIPAT GANDA SELAMANYA. KAMI MENGAJAK BEKERJASAMA KEPADA SELURUH KALANGAN UNTUK MEMANFAATKAN PELUANG BAIK INI.
PEMANFAATAN ULAT JERMAN
- SEBAGAI BAHAN DASAR KOSMETIK
- SEBAGAI BAHAN DASAR PENGGANTI MINYAK GORENG
- SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF PENGGANTI HEWANI
- SEBAGAI PAKAN YANG BERPROTEIN TINGGI
- SEBAGAI PAKAN IKAN DAN REPTILE
KEUNGGULAN NILAI GIZI ULAT JERMAN
JUMLAH KANDUNGAN PROTEIN PADA ULAT JERMAN
JUMLAH KANDUNGAN LEMAK PADA ULAT JERMAN
JUMLAH KANDUNGAN KALSIUM PADA ULAT JERMAN
JUMLAH KANDUNGAN SERAT KASAR PADA ULAT JERMAN
KEUNTUNGAN USAHA ULAT JERMAN
- TIDAK MEMERLUKAN KEAHLIAN KHUSUS ( SEMUA KALANGAN DAPAT BETERNAK )
- TIDAK MEMERLUKAN WAKTU DAN PERAWATAN KHUSUS
- TIDAK MEMERLUKAN AREA TEMPAT BETERNAK YANG LUAS
- TIDAK MEMERLUKAN MODAL YANG SANGAT BESAR ( LOW BUDGET )
- TIDAK MEMERLUKAN PAKAN DAN OBAT –OBATAN KHUSUS ( LEBIH ALAMI )
- TIDAK ADA POLUSI DAN LIMBAH YANG BERBAU
- KOTORAN ULAT JERMAN BERNILAI JUAL
- PENDAPATAN HASIL PETERNAKAN LEBIH CEPAT
- HARGA PASAR STABIL BAHKAN CENDERUNG NAIK
- PENDAPATAN BESAR DAPAT DISESUAIKAN DENGAN KEINGINAN
- BERSAMA KELOMPOK PETERNAK BINAAN HASIL PANEN PASTI DIBELI
- DAPAT DIJADIKAN EKONOMI KREATIF KELOMPOK KOMUNITAS DAN INDIVIDUAL
- MODAL CEPAT KEMBALI DAN UNTUNG BESAR SELAMANYA
KERJASAMA USAHA ULAT JERMAN
- PASS BREEDING MEMBERIKAN PELATIHAN BUDIDAYA ULAT JERMAN DENGAN KESEPAKATAN AWAL PENANDATANGAN KERJASAMA
- PASS BREEDING MENYEDIAKAN BIBIT KUMBANG YANG SIAP DIBELI DAN DIKOORDINIR OLEH KORLAP WILAYAH / KETUA KELOMPOK, DAN PENGEPUL DI WILAYAH MASING-MASING
- MODAL BETERNAK UNTUK BUDIDAYA ULAT JERMAN SEBESAR Rp 2.000.000,- / KOTAK KUMBANG (INDUKAN ULAT JERMAN)
- PASS BREEDING MENERIMA DAN MEMBAYAR TUNAI BERAPAPUN JUMLAH PANEN DARI HASIL BUDIDAYA BETERNAK ULAT JERMAN BERDASARKAN MODAL AWAL KUMBANG YANG DIBELI
- KORLAP DAN PENGEPUL BEKERJASAMA MENERIMA HASIL PANEN DARI PARA PETERNAK DENGAN SISTEM TIMBANG BAYAR
- PASS BREEDING MEMBELI HASIL PANEN DARI KORLAP/PENGEPUL SEBESAR Rp 30.000 / KG DAN KORLAP/PENGEPUL MEMBELI DARI PETERNAK BINAAN SEBESAR Rp 25.000 / KG
- PASS BREEDING BERSAMA KORLAP / PENGEPUL SEPAKAT MENENTUKAN TANGGAL PENERIMAAN HASIL PANEN TERNAK ULAT JERMAN
CARA BUDIDAYA ULAT JERMAN UNTUK PEMULA
| sumber: gdm.id |
Siapa sangka jika ulat jerman yang berukuran besar ini mendatangkan keuntungan? ya, budidaya ulat jerman saat ini memang sangat banyak diminati oleh para pemula agribisnis.
Pangsa Pasar ulat jerman sendiri saat ini banyak dibutuhkan untuk kebutuhan ekspor, khususnya untuk industri.
Peluang budidaya ulat jerman saat ini masih terbuka lebar, terlebih belum banyak yang memulai agribisnis yang satu ini.
Bagaimana cara ternak ulat jerman bagi pemula yang tidak memiliki banyak modal, tidak memiliki lahan besar dan tentu saja belum punya banyak pengalaman untuk membudidayakan ulat jerman? Jika Anda ingin memulai ternak ulat jerman, yuk simak penjelasan berikut ini:
Keunggulan Ulat Jerman
Ulat jerman ini berasal berasal dari larva kumbang hitam. Ulat jerman atau King Mealworm (Zophobas morio) adalah salah satu bahan pakan yang paling banyak digunakan sebagai pakan reptil, burung, unggas, dan ternak lainnya.
Ulat jerman ini biasa disebut sebagai superworm karena manfaatnya yang luar biasa. Keunggulan dari ulat jerman ada sangat banyak, diantaranya adalah:
- Ukuran tubuh ulat jerman bisa mencapai lebih dari 7 kali lipat dari ulat hongkong atau >50 mm.
- Ulat jerman bisa membantu menaikkan sistem kekebalan tubuh yang lebih tinggi pada ternak/hewan yang memakan, sehingga bisa menangkal penyakit akibat virus, bakteri, jamur dan parasit sehingga aman untuk dimakan oleh burung kicauan.
- Kandungan nutrisi ulat jerman adalah protein : 19,06 %, lemak : 14,19 %, serat kasar: 2,60 %, air 57% dan kalsium : 173 ppm.
- Kandungan khitin (exoskeleton) pada ulat jerman ini jauh lebih sedikit daripada ulat hongkong, sehingga lebih mudah dicerna aman bagi sauran pencernaan burung, dan aman untuk digunakan sebagai pakan utama.
Memahami begitu banyaknya keunggulan ulat jerman tersebut, tentu bisa menjadi alasan utama Anda untuk memulai bisnis budidaya ulat jerman.
Cara Ternak Ulat Jerman
Untuk memulai budidaya ulat jerman, pertama-tama lakukan persiapan tempat, media hidup, bibit, dan lakukan perawatan dengan baik.
Berikut teknis yang bisa Anda terapkan untuk memulai budidaya ulat jerman:
1. Persiapan Kandang Dan Penentuan Ukuran Kotak Ulat Jerman
- Kandang yang berbentuk kotak digunakan sebagai tempat tinggal ulat jerman. Ukuran kotak ulat jerman yang disarankan adalah PXLXT =100 cm X 100 cm X 20 cm, dan bisa dibuat dari bahan triplek/papan bekas.
- Anda disarankan untuk menggunakan bahan kotak dari triplek/papan. Ini dikarenakan bahan-bahan tersebut bisa menjaga suhu ruangan tetap sejuk.
- Tidak disarankan untuk menggunakan kotak dengan bahan alumunium/seng, karena bisa menyebabkan suhu udara dalam ruangan kotak menjadi lebih panas.
2. Persiapan Bibit Ulat Jerman
Bibit ulat jerman yang baik dan sehat adalah salah satu penentu keberhasilan usaha ulat jerman. Lalu bagaimana ciri-ciri ulat jerman yang berkualitas? Berikut ini adalah ciri-ciri ulat jerman yang sehat:- Berukuran seragam.
- Bergerak aktif (menggeliat dengan lincah).
- Berwarna coklat agak gelap dan tampak cerah.
- Tidak ada tanda cacat fisik atau gangguan jamur atau penyakit lainnya.
Itu adalah tanda-tanda larva ulat jerman yang sehat. Selain mempertimbangkan kondisi ulat jerman, Anda juga harus mempertimbangkan kemudahan dalam mendapatkan bibit ulat jerman tersebut.
Beberapa hal penting yang harus Anda pertimbangkan saat memilih bibit ulat jerman diantaranya adalah:
- Mudah didapatkan di daerah Anda, ataupun bisa dibeli online dengan jaminan larva bisa tetap hidup dalam pengiriman.
- Dijual dengan harga terjangkau.
- Sudah jelas pihak yang menjual bibi ulat jerman tidak mengalami masalah akibat gangguan hama-penyakit.
Setelah memastikan Anda mendapatkan bibit yang berkualitas, selanjutnya Anda bisa mulai mempersiapkan proses ternak ulat jerman pemula:
3. Peletakan Bibit Ulat Jerman Sebagai Calon Indukan
Bibit Ulat jerman ini nantinya akan digunakan sebagai indukan ulat jerman. Agar bisa menghasilkan indukan yang berkualitas, berikut ini adalah cara meletakkan bibit ulat jerman:
Siapkan Alat:
- Kotak berukuran 100 cm X 100 cm X 20 cm atau nampan kotak besar.
- Botol yakult/cup dengan diameter 4-7 cm.
Bahan:
- Bibit ulat jerman yang berkualitas.
- Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan
Cara Meletakkan Bibit Ulat Jerman Pada Kotak Dan Perawatan
- Siapkan kotak/nampan kotak.
- Tata dengan rapih cup didalam kotak hingga semua permukaan dipenuhi cup.
- Masukkan 1 bibit kedalam 1 cup, sehingga satu cup berisi1 bibit, agar tidak terjadi kanibalisme dan proses metamorfosis menjadi kumbang bisa optimal.
- Letakkan ditempat yang teduh, gelap, tidak terkena matahari langsung, dan aman dari gangguan predator agar proses metamorfosis bisa berjalan dengan cepat.
- Puasakan bibit selama sekitar 10-14 hari hingga larva berubah menjadi kepompong, kemudian berubah menjadi kumbang muda yang berwarna cream.
Setelah proses meletakkan bibit ulat jerman kedalam kotak dengan tempat isolasi, selanjutnya lakukan perawatan kumbang Zophobas morio tersebut dengan cara berikut:
Cara Merawat Kumbang Zophobas morio
Setelah kepompong berubah menjadi kumbang, maka langkah selanjutnya adalah memindahkan kumbang tersebut ke kotak khusus yang digunakan sebagai tempat perkawinan dan menghasilkan telur. Agar tidak salah, ikuti langkah berikut:
- Siapkan kotak perkawinan berukuran sedang, sekitar 50×50 cm.
- Tuangkan 500-1000 gram polar di permukaan alas kotaknya, kemudian ratakan.
- Pindahkan kumbang muda dari cup isolasi ke kotak perkawinan.
- Dalam satu kotak tersebut, pastikan di isi oleh 1 kumbang jantan dan 1 kumbang betina.
- Beri pakan secara teratur kumbang tersebut, setidaknya 1 kali sehari.
- Untuk memastikan kumbang bisa berkembang dengan baik, menghasilkan telur dalam jumlah banyak, produktivitas tinggi dan tetap sehat, lakukan penambahan suplemen dengan menggunakan Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan.
- Cara perawatan kumbang adalah dengan menyemprotkan 1-2 ml Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan secara merata ke polar/substrat kandang/kotak perkawinan. Ulangi penyemprotan ini setiap 1 minggu sekali.
- Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan ini penting untuk diberikan pada indukan/kumbang dewasa, untuk menunjang proses perkawinan serta menjaga dan menunjang produktivitas kumbang agar bisa menghasilkan telur dalam jumlah banyak dan berkelanjutan.
Ini dikarenakan produk Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan mengandung mineral essensial-non essensial, multivitamin, dan bakteri baik yang sangat baik untuk menjaga indukan agar tetap sehat dan produktiv.
- Untuk memastikan kumbang tidak merusak telur-telur yang dihasilkan, pindahkan pasangan kumbang tersebut ke kandang yang baru setidaknya 2 minggu sekali.
- Lakukan pemantauan terhadap substrat/polar yang ditinggalkan. Jika terdapat telur, maka biarkan hingga telur-telur tersebut menetas dengan sendirinya.
Itu adalah cara merawat indukan agar bisa produktiv. Selanjutnya, lakukan perawatan terhadap ulat jerman yang sudah menetas dengan baik dan benar.
4. Cara Memelihara Ulat Jerman
Cara memelihara ulat jerman sebenarnya tidaklah sulit. Namun, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, diantaranya adalah:
a. Beri Pakan Yang Berkualitas
Pakan ulat jerman sebenarnya sangat bermacam-macam. Beberapa jenis pakan ulat jerman yang biasa diberikan adalah limbah sayuran/buah, polar, pur ayam, limbah jagung, dan lainnya.
Meski begitu, tentu saja Anda tetap haris memberikan yang memiliki kandungan nutrisi lengkap, seperti karbohidrat, lemak dan protein.
Tentu saja, pemberian pakan dengan protein cukup bisa menunjang pertumbuhan dan perkembangan ulat jerman dengan lebih optimal.
Nah, agar pemberian pakan Anda bisa memenuhi target protein dan nutrisi harian, berikut ini adalah contoh kombinasi bahan pakan ulat jerman terbaik, dengan kandungan protein 14:
Bahan Pakan % GE PK LK SK Ca P Polar 13 559,5 2,1944 0,6474 1,1284 0,5746 11,305 Ampas tahu kering 37,5 1503 8,4 2,295 8,4938 0,9825 0 Mpok jagung 37,5 1755 3,2325 1,4888 0,8363 0,6113 31,733 Minyak sawit 12 1080 0 0 0 0 0 Total 100 4899 13,917 4,4312 10,458 2,1684 43,037 Tabel 1; kombinasi pakan ulat jerman dengan kombinasi GE 5000 kkal, dan protein kasar 14%
b. Beri Tambahan Nutrisi Dari Suplemen
Suplemen penting untuk diberikan pada ulat jerman. Ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan ulat jerman, mencegah serangan penyakit akibat bakteri, virus dan jamur, serta memastikan asupan nutrisi ulat jerman sudah terpenuhi secara lengkap.
Berikan suplemen organik yang mengandung unsur mineral essensial-non essensial, multivitamin, dan bakteri baik yang bisa meningkatkan imunitas ulat jerman. Dengan begitu, kendala ternak ulat jerman, seperti terserang penyakit ataupun pertumbuhan yang lambat bisa diatasi dengan suplemen tersebut.
Salah satu suplemen yang terbaik untuk ulat jerman adalah Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan. Selain mengandung mineral essensial-non essensial, multivitamin, dan bakteri baik, produk ini juga diproses dengan menggunakan teknologi modern yang menjaga kualitasnya, sehingga dapat digunakan oleh ulat jermat dalam jangka waktu lama tanpa efek samping.
- Cara pemberian Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan ini adalah dengan menyemprotkan 2 ml Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan secara merata keseluruh permukaan media/substrat kandang.
- Ulangi pengaplikasian Suplemen Organik Cair GDM Spesialis Peternakan ini setiap 3-7 hari sekali.
Itu adalah paduan cara beternak ulat jerman. Bagaimana? Mudah bukan?
BENTUK KERJASAMA ANTARA PT MULTI CAHAYA DINARTO DENGAN PENGEPUL WILAYAH
BENTUK KERJASAMA
- PT. Multi Cahaya Dinarto Malang menyediakan Kumbang Jerman kepada pihak Koordinator di tingkat Kabupaten / Kota sesuai dengan kebutuhan peternak dampingannya dengan pembayaran tunai sesuai dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya dan diterima di lokasi Koordinator Kabupaten / Kota.
- PT. Multi Cahaya Dinarto Malang berkewajiban menampung seluruh hasil produksi berupa Ulat Jerman dari Koordinator Kabupaten / Kota di Malang dalam keadaan Hidup dan memiliki panjang minimal 4 cm ( lebih kurang berumur 3 bulan ) selama 2 tahun masa kontrak berlangsung ataupun ketika masa perpanjangan kontrak berikutnya.
- Kapasitas produksi ulat jerman per 7 – 10 hari adalah 1%- 1,05 % dari total kumbang jerman yang ada di Kabupaten / Kota ( jumlah yang dibeli oleh Koordinator untuk peternak dampingannya ), dengan demikian jika terjadi kelebihan produksi dari maksimal kapasitas produksi , maka PT. Multi Cahaya DInarto Malang tidak berkewajiban membeli, terkecuali ada penjelasan khusus oleh pihak Koordinator. Demikian sebaliknya jika kapasitas produksi jauh dibawah target, maka pihak koordinator wajib memberikan penjelasan. Pengiriman Kumbang Jerman kepada peternak dampingan adalah tanggung jawab sepenuhnya pihak Koordinator.
- Kontrak kerjasama antara Koordinator Kabupaten / Kota dengan Peternak dampingannya berisikan bahwa Kumbang Jerman pada tahap awal berasal dari Koordinator dan penjualan ulat jerman hasil produksi peternak dijual hanya kepada Koordinator Kabupaten / Kota.
- Kontrak kerjasama dibuat untuk masa 2 tahun dan diperpanjang setiap 2 tahun sekali, dan pada masa perpanjangan kontrak ke II dan seterusnya peternak tidak lagi harus membeli Kumbang Jerman kepada Koordinator, melainkan peternak akan diberikan pelatihan oleh PT. Multi Cahaya Dinarto Malang bersama Koordinator Kabupaten / Kota tentang tata cara menghasilkan Kumbang.
- Penjualan ulat Jerman dari Peternak hanya kepada Koordinator Kabupaten / Kota dengan harga yang berlaku pada saat terjadinya transaksi, dan dilakukan ditingkat Koordinator Kabupaten / Kota, dan jika ternyata peternak tidak menjual hsil produksinya kepada koordinator tetapi menjualnya kepada pihak lain, maka isi kontrak kerjasama antara koordinator dengan peternak dianggap batal, sehingga Koordinator tidak lagi memiliki kewajiban untuk membeli hasil produksi peternak untuk tahap selanjutnya.
- Peternak bertanggung jawab penuh atas kondisi Kumbang Jerman maupun Ulat jerman yang dimilikinya.
MERAIH SUKSES BERKELANJUTAN BERSAMA KUMBANG JERMAN / ULAT JERMAN
PENGAMANAN KUMBANG DAN ULAT JERMAN SUPER WORM (ZOPHOBAS MORIO)
| KUMBANG JERMAN |
| ULAT JERMAN USIA 10 HARI |
| ULAT JERMAN USIA 1 BULAN |
| ULAT JERMAN USIA 1 BULAN DIPISAHKAN 2 KOTAK |
| ULAT JERMAN USIA 3 BULAN SIAP JUAL |
| PEMBERIAN WORTEL, WALUH, KATES, MANISA, DLL |
| PAKAN DASAR KUMBANG DAN ULAT JERMAN |
PANDANGAN DARI SEGI AGAMA TENTANG KUMBANG/ULAT JERMAN
| sumber: kumbangjerman.com |
Belakangan ini banyak orang mengolah Ulat Jerman itu untuk menjadi bahan konsumsi. Misalnya dibuat menjadi campuran sambal, atau rempeyek, seperti rempeyek udang/ebi, dll. Ada yang menyebutkan kandungan gizinya sangat baik.
Bahkan karena kandungan lemaknya juga tinggi, maka ada yang malah sengaja membudi-dayakannya untuk diolah menjadi minyak goreng. Karena dianggap lebih ramah lingkungan. Sebagai pengganti minyak goreng dari kelapa sawit, yang memerlukan lahan sangat luas, dan dianggap cenderung merusak (keseimbangan) lingkungan.
Melihat hal tersebut, para ulama berpendapat bahwa sejatinya, penetapan hukum dalam Islam itu sederhana. Yaitu merujuk pada ketentuan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari sini, maka dapat dipahami, makanan yang haram itu hanya sedikit, sebagaimana yang disebutkan secara spesifik di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sedangkan selebihnya, yang halal itu, sangat banyak.
Dari sisi nash syariah, hukum tentang makan Ulat Jerman ini tidak ada di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Juga tidak ada dalil nash yang sharih (secara jelas dan tegas) menyatakan keharamannya. Dalam hal ini, maka sebagai petunjuk dapat merujuk pada Kaidah Fiqhiyyah yang menyebutkan: “Al-ashlu fi al-asy-ya’i al-ibaahah, illaa maa dalla daliilu ‘alaa tahriimihi” (Segala sesuatu itu pada dasarnya adalah mubah atau boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya). Dengan demikian dalam kaidah syariah, mengkonsumsi Ulat Jerman itu termasuk kategori yang didiamkan. Oleh karenanya, sepanjang tidak dijelaskan dengan tegas tentang keharamannya, atau tidak menjijikkan, atau tidak membahayakan, maka Ulat Jerman itu boleh dikonsumsi.
Para ulama menafsirkan dan menjelaskan, hal-hal yang didiamkan itu juga berarti Ma’fu ‘Anhu, hal yang dimaafkan. Artinya, dibolehkan atau halal hukumnya, kecuali kalau menjijikkan dan/atau membahayakan. Dalam hal ini berlaku kaidah hukum yang bersifat umum, yaitu kemanfaatan dan kemaslahatan. Kalau bermanfaat dan membawa maslahat (kebaikan), maka diperbolehkan. Dan sebaliknya, kalau membahayakan, maka terlarang: “Laa dhoror wa laa dhiror”. Tidak boleh membahayakan atau menimbulkan bahaya. Kalau berbahaya, maka menjadi haram.
Menjijikkan, sebagai terjemahan dari ungkapan kata “Khobaits” yang disebutkan dalam nash, itu artinya bertentangan dengan naluri kemanusiaan yang normal, sehingga akan selalu dihindari orang. Memang, menjijikkan itu sendiri sangat relatif. Misalnya, bagi orang tertentu, buah durian sangat menjijikkan. Mencium aroma atau baunya saja, langsung mau muntah. Sehingga membahayakan bagi dirinya. Maka, bagi orang itu, durian menjadi terlarang. Oleh karena itu, sebagian ulama menjelaskan “Khobaits” bermakna menjijikkan itu adalah najis. Karena, boleh dikata, semua orang tentu akan merasa jijik dengan najis.
Ulat itu kalau termasuk khobaits, menjijikkan, maka hukumnya haram untuk dikonsumsi, sedangkan kalau tidak termasuk khobaits, maka hukumnya boleh atau halal. Karena ada pendapat ulama, kalau ulat itu hidup di lingkungan atau dari pakan yang halal, maka hukumnya halal pula untuk dikonsumsi. Sebaliknya, kalau pakannya dari barang yang haram atau najis, maka hukumnya juga haram. Seperti ulat atau belatung yang hidup dan makanannya dari bangkai, maka hukumnya haram. Sedangkan kalau ulat itu hidup di dalam buah, misalnya buah mangga atau kacang panjang, lalu termakan, maka itu tidak masalah dari sisi agama. Dari sini maka dapat dipahami, kalau ulat itu dibudidayakan, maka harus diketahui terlebih dahulu pakannya.
Meskipun demikian, secara spesifik dapat dijelaskan bahwa Ulat Jerman itu merupakan bagian dari tahapan metamorfosa kumbang. Menurut pendapat sebagian ulama, secara fisikal, tampilan fisik, Ulat Jerman itu memiliki unsur Istiqdzar atau menjijikkan, termasuk bagian dari Khobaits dalam pengertian yang umum. Kalau memang bisa disimpulkan termasuk Istiqdzar secara umum, maka mengkonsumsi Ulat Jerman itu menjadi terlarang. Karena ia bersifat Khobaits. Tetapi jika, dengan berbagai alasan, Ulat Jerman itu tidak termasuk Istiqdzar, maka ia tidak termasuk Khobaits, dan berarti tidak haram. Bisa dihukumi sama dengan hewan/serangga Cochineal yang telah difatwakan halal oleh Komisi Fatwa (KF) MUI. Atau juga seperti laron yang juga halal, dan telah lazim dikonsumsi oleh sebagian masyarakat.
Lebih lanjut lagi, menurut para ulama, ulat itu merupakan salah satu jenis hewan yang termasuk ke dalam kategori al-Hasyarot, dan dapat diqiyashkan atau dianalogikan sama dengan cacing.
Berkenaan dengan hal ini, dalam Fatwa yang telah ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI, dan telah pula dipublikasikan dalam buku Himpunan Fatwa MUI, hal 636-638, disebutkan bahwa sebagian ulama ada yang berpendapat halal hukumnya memakan cacing, sepanjang ia bermanfaat, dan tidak membahayakan. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Al-Auza’i. Namun ada pula pendapat ulama yang mengharamkan memakannya.
Berikutnya, membudidayakan cacing untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, maka hal itu tidak bertentangan dengan hukum Islam. sedangkan membudidayakan cacing ini untuk diambil sendiri manfaatnya secara tidak langsung, misalnya untuk pakan burung, tidak untuk dikonsumsi manusia, maka hukumnya boleh (mubah).
Selain itu, harus pula ditelaah, apakah Ulat Jerman itu memiliki darah yang berwarna merah, atau darah yang mengalir. Sebab, kalau mengandung darah yang demikian, maka hukumnya haram. Oleh karena itu perlu pula dilakukan verifikasi dari tenaga ahli biologi atau pakar hewan jenis ini. Kami sebagai ulama, hanya bisa memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan tentang ketentuan halal-haram untuk hewan jenis ini. Sampai sejauh ini, Komisi Fatwa MUI belum mengeluarkan fatwa khusus tentang halal atau haramnya mengkonsumsi hewan ini. Wallahu a’lam. (USM)
Sumber informasi akurat MUI :
https://www.halalmui.org/mui14/main/detail/hukum-konsumsi-ulat-jerman
HALAL & HARAM
Ketua (PONPES) pondok pesantren seluruh jatim yaitu : yaitu bpk K. H. SIROTOL MUSTAKIM, SE juga menyatakan HALAL.


